Harapan adalah Doa

Disini, hari ini, malam ini. Aku berangkat dalam lamunan. Bermodal jaket tua dan tas lusuh. rintih pilu menarik nada sumbangku juga saat pikiranku melayang tak menentu.

Hari ini. malam begitu dingin, menyusuri lorong rumah sakit, yang terlihat menyempit, semakin pekat, semakin pudar, hanya doa yang bisa kupanjatkan meskipun mulut terbungkam kesedihan.

Raga itu terduduk lesu mentapku, raga yang dulu terlihat tegar seolah hilang saat kupandang. Pamanku tercinta, hiduplah sekokoh bumi, aku tau dirimu kuat. Tanpa diriku tau, pastilah sosokmu begitu pekat, hilangkanlah sandiwaramu. Aku benci itu.

Senyuman saat lainnya bergurau, pastilah tersimpan kesedihan malam itu, aku hanya tak sempat menatapmu terlalu lama, aku takut air mata ini keluar dengan sendirinya, bukankah begitu cara kerja hati & perasaan paman?

Aku belajar banyak tentangmu. Pikiranmu yang selalu jauh berkelana, aku ingin sekali mencapainya, seperti dirimu. Pamanku, cepatlah sembuh seperti dulu, saat tawa renyahmu kutunggu-tunggu, juga tentang perjalanan kuliner penyinggung kecap lidah bersamamu. Hanya doa dan harapan ini yang bisa kutanamkan padamu paman, semoga lekas sembuh,..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s