Tatapan Kabut

Semegah lamunan tak terarah.

Ku terbangun mengamati buramnya kehidupan.

Saat jam dinding menjauh sebagai teman.

Kau merajuk mimpiku, menarik penuh paksaan.

Saat itu. Aku hanya menyerah.

Bukan pasrah.

Pagi terlampau dingin untuk diungkapkan.

Dia tertawa bersama kabut yang baru saja terbangun.

Baru saja. Menangkap sisi-sisi kehangatan.

Menjelma menjadi tetesan embun di dedaunan.

Aku tak percaya. Aku ragu.

Mebandingkan sikapmu dengan kabut.

Mengapa, terlihat sama.

Tak layak pandangku menujumu.

Pandangku sungguh terganggu olehmu.

Bisakah sejenak kau bergeser, kabut?

Setidaknya beri aku lentera,

Dan jangan belokkan niat baikku.

Aku lelah.

Aku bersumpah.

bahwa, Sawah. Gunung. Bahkan bunga kecil disana juga kedinginan.

Namun ia enggan berkomentar. Ia tabah.

Tabah sampai sang surya mengambil tindakan.

Hanya matahari yang berani.

Menyinggung dinginnya kabut.

Mengusir segala kerinduan dan menerangi sisi gelap kehidupan.

Isyarat kabut memberikan kerinduan.

Meski-pun hanya terbatas oleh waktu dan malam.


 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s