Calcuscus, typo style.

Kalkulus.

Kau hadir 2 kali dalam seminggu.

Tak penat, tak gundah. Aku bahagia, namun dalam sebuah sandiwara.

Ku sulit meraba ekspresimu.

Ku sulit menerka tingkah lakumu.

Aku hadir hanya untuk diam dan membisu.

#

Kalkulus.

Kau membuat hidupku sungguh ringan tanpa beban.

Apalah hidup tanpa sandiwara, bukan?

Hidup-mati, hidup-mati kulalui semenjak ku beradaptasi denganmu.

Rumus-rumus mu mengesankan.

Aku kagum, lagi-lagi terdiam.

##

Kalkulus.

Tuntutlah aku mempelajarimu.

Tuntutlah aku sebisa yang kau mau.

Tuntutlah aku menjadi mahasiswa berilmu.

Meskipun, dosennya begitu.

Aku rela.

48200


Ditemukan terkapar disudut ruangan bersama buku kalkulus dihadapannya.
13 – Oktober – 2016

Tatapan Kabut

Semegah lamunan tak terarah.

Ku terbangun mengamati buramnya kehidupan.

Saat jam dinding menjauh sebagai teman.

Kau merajuk mimpiku, menarik penuh paksaan.

Saat itu. Aku hanya menyerah.

Bukan pasrah.

Pagi terlampau dingin untuk diungkapkan.

Dia tertawa bersama kabut yang baru saja terbangun.

Baru saja. Menangkap sisi-sisi kehangatan.

Menjelma menjadi tetesan embun di dedaunan.

Aku tak percaya. Aku ragu.

Mebandingkan sikapmu dengan kabut.

Mengapa, terlihat sama.

Tak layak pandangku menujumu.

Pandangku sungguh terganggu olehmu.

Bisakah sejenak kau bergeser, kabut?

Setidaknya beri aku lentera,

Dan jangan belokkan niat baikku.

Aku lelah.

Aku bersumpah.

bahwa, Sawah. Gunung. Bahkan bunga kecil disana juga kedinginan.

Namun ia enggan berkomentar. Ia tabah.

Tabah sampai sang surya mengambil tindakan.

Hanya matahari yang berani.

Menyinggung dinginnya kabut.

Mengusir segala kerinduan dan menerangi sisi gelap kehidupan.

Isyarat kabut memberikan kerinduan.

Meski-pun hanya terbatas oleh waktu dan malam.