Memories

If I had a time machine.
I will not do it.
Doing emotion and anger in front of my laptop.

It fretting me.
the restless fingers feel guilty.

I am disappointed.
when it actually happened to me.

I ruin my laptop.
Actually my harddisk.
I’m sorry, have ruined it.
Ruin is tantamount to wipe the memory with her.
My lover.

I could buy a new one, or replace it.
But the memory is still stored?
Memories with her really valuable than money.
Sorry.

Fortunately.

She still stored in hearts and also my mind.

Advertisements

Calcuscus, typo style.

Kalkulus.

Kau hadir 2 kali dalam seminggu.

Tak penat, tak gundah. Aku bahagia, namun dalam sebuah sandiwara.

Ku sulit meraba ekspresimu.

Ku sulit menerka tingkah lakumu.

Aku hadir hanya untuk diam dan membisu.

#

Kalkulus.

Kau membuat hidupku sungguh ringan tanpa beban.

Apalah hidup tanpa sandiwara, bukan?

Hidup-mati, hidup-mati kulalui semenjak ku beradaptasi denganmu.

Rumus-rumus mu mengesankan.

Aku kagum, lagi-lagi terdiam.

##

Kalkulus.

Tuntutlah aku mempelajarimu.

Tuntutlah aku sebisa yang kau mau.

Tuntutlah aku menjadi mahasiswa berilmu.

Meskipun, dosennya begitu.

Aku rela.

48200


Ditemukan terkapar disudut ruangan bersama buku kalkulus dihadapannya.
13 – Oktober – 2016

Just Need You.

When you promise to me for many times.

You need to know dear.

Sometimes vows and pledges just looks like a crap.

Do not easily to pledged, but you make something wrong.

If you pledge a thousand times, then you will lose me a thousand times more.

Love not need a shit thing. love not need a sacrifice.

Love need a sincerity.

– When I was wet from the rain just because of you. I did not mind.

Because the promise is not a constant value. pledge today will be different tomorrow. especially the years.

If love is a promise and if love is a souvenir.

Once granted, the love will never be forgotten. Do not let it be lost.

Love is giving a promise, man betrayed. Love can be trusted, but not humans.

Feel the beats! comb the pages you find through my heart in obedience promise.

Dear, avoid to make a promises.

Love is not appointment, and i do not need that too.

I just need you, need you to accompany my day.

Need your figure becomes damper anger.

Need your figure when I’m wrong about something.

Need you when under that tree, are you remember that?

The time where we sing together, we feel grief together. wrote a poem and read it to me. it was crazy, but I loved it.

Enough you, dear.

In the end, no one can force. No appointments or loyalty. No, even if he chose to stay with you, her heart is not forced by anything and by anyone.


Daily Prompt : Promises

One of The Signs of a Relationship

Original love will give wings to her partner. Fake love will give shackles on her partner.

When I talk about it. She was confused and looked at me suspiciously.

Do not be confused, stay calm and face my eyes.
” If love and feelings are not genuine and pure for you.

Where possible my heart was always chasing and beating irregularly when with you?”

( She hugged me and my face went down on her shoulder. )

but wait. I felt the strangeness.

WHERE the heart rate usually?

WHY feels as usual when I hug you?

whether I still love the original? (I asked to myself)

I hope this is not a big problem. Because I still love her every day.


Daily PromptOriginal

Image Credit : Deviantart 

Tatapan Kabut

Semegah lamunan tak terarah.

Ku terbangun mengamati buramnya kehidupan.

Saat jam dinding menjauh sebagai teman.

Kau merajuk mimpiku, menarik penuh paksaan.

Saat itu. Aku hanya menyerah.

Bukan pasrah.

Pagi terlampau dingin untuk diungkapkan.

Dia tertawa bersama kabut yang baru saja terbangun.

Baru saja. Menangkap sisi-sisi kehangatan.

Menjelma menjadi tetesan embun di dedaunan.

Aku tak percaya. Aku ragu.

Mebandingkan sikapmu dengan kabut.

Mengapa, terlihat sama.

Tak layak pandangku menujumu.

Pandangku sungguh terganggu olehmu.

Bisakah sejenak kau bergeser, kabut?

Setidaknya beri aku lentera,

Dan jangan belokkan niat baikku.

Aku lelah.

Aku bersumpah.

bahwa, Sawah. Gunung. Bahkan bunga kecil disana juga kedinginan.

Namun ia enggan berkomentar. Ia tabah.

Tabah sampai sang surya mengambil tindakan.

Hanya matahari yang berani.

Menyinggung dinginnya kabut.

Mengusir segala kerinduan dan menerangi sisi gelap kehidupan.

Isyarat kabut memberikan kerinduan.

Meski-pun hanya terbatas oleh waktu dan malam.


 

Wanita Disudut Kursi Kereta

Jam hitam polos itu masih setia menempel di lengan.

Jarum pendek menunjuk angka 2 siang.

Siang itu dingin bertabur rindu menusuk ke tulang.

dan Hujan berekspresi sebagai rintik-rintik kasih sayang.

Siang itu.

Aku menanti kereta, datang mehampiriku.

Singosari. Tempatku menunggu sebuah kepastian.

Selang 10 menit dari jadwal, kereta itu datang. Pastinya dengan penuh kepastian.

Beranjak dari kursi tunggu yang telah menemaniku beberapa menit.

Aku angkat tas beratku dan menuju petugas peron.

Pengecekan tiket dengan identitas ia lakukan.

Barulah aku diperbolehkan masuk kereta & berjumpa rindu di setiap sudutnya.

Kereta pun memutarkan roda besinya.

Menuju stasiun penuh penantian berikutnya.

Stasiun kota lama. Tempat penumpang selanjutnya naik.

Ada 1 yang berbeda kala itu. Ku terdiam. Melihatmu.

Bidadari yang bingung mencari tempat duduknya.

Ternyata oh ternyata.

Dirimu berseberang duduk denganku.

Cukupkah dirimu menjadi sosok indah diperjalananku?

Cukupkah rasa kagum ini berubah menjadi bulir-bulir cinta?

Aku mudah sekali jatuh cinta, namun tak semua cinta dapat bertahan menggantikanmu.

Aku ingat.

Bahkan wajahmu aku ingat.

Aku yang tengah duduk di kursi yang bertuliskan “16 E”.

Tengah melamun memandangmu. Seperti naluri yang enggan menjauh.

Entah mengapa. Wajahmu sungguh menenenangkan gundah hatiku.

Setengah perjalanan menuju Tulungagung.

Sedikit kecewa terhadap takdir, dia turun di sebuah kota mungil.

Kota yang disebut dengan kota Patria, yaitu kota Blitar.

Tanpa sempat mengobrol dengannya, atau hanya sekedar menanyakan namanya.

Saat dimana insting itu muncul, dasar pecundang!!

Hatiku menunjuk diriku sendiri. Kecewa sungguh terukir rapi di hati.

Andai waktu dapat terulang kembali, hanya untuk dirinya.

Ijinkan aku berbincang dengannya, Bolehkah Tuhan?

atau, pertemukan kita di waktu yang tak terduga.

Hanya karena skenario-Mu terlampau indah, bukan?

Sejak pemberhentian di stasiun itu.

Aku hanya mencoba untuk tidur dan berharap.

Berharap agar dirinya ada dalam mimpiku.

Dan berharap bisa berkenalan dengannya melalui mimpi.

Namun, diakhir perjalananku. Dia tetap menjadi sebuah misteri.

Misteri yang semoga bisa terpecahkan.

Beberapakali aku menemukan mimpiku sendiri terjerembab di depan pintu. Kuyup oleh hujan. Seperti pakaian kotor berulangkali kucuci dan kujemur di halaman luas. Pada saat saat seperti itu aku selalu ingat wajah dan matamu saat menatapku; selalu teduh dan meneguhkan. Maka aku yakin pada akhirnya jarak hanya memisahkan raga. Tapi ia tak pernah sanggup menjauhkan mimpi, imaji dan kenangan yang kita semat bersama dalam rindu yang paling diam.

Saat ini tetap kutunggu sebuah keajaiban, yang memberiku waktu satu kali lagi, hanya untukmu. Semoga kita bertemu.


Tulungagung 27-Mei-2016, Terimakasih untuk kenanganmu.