Wanita Disudut Kursi Kereta

Jam hitam polos itu masih setia menempel di lengan.

Jarum pendek menunjuk angka 2 siang.

Siang itu dingin bertabur rindu menusuk ke tulang.

dan Hujan berekspresi sebagai rintik-rintik kasih sayang.

Siang itu.

Aku menanti kereta, datang mehampiriku.

Singosari. Tempatku menunggu sebuah kepastian.

Selang 10 menit dari jadwal, kereta itu datang. Pastinya dengan penuh kepastian.

Beranjak dari kursi tunggu yang telah menemaniku beberapa menit.

Aku angkat tas beratku dan menuju petugas peron.

Pengecekan tiket dengan identitas ia lakukan.

Barulah aku diperbolehkan masuk kereta & berjumpa rindu di setiap sudutnya.

Kereta pun memutarkan roda besinya.

Menuju stasiun penuh penantian berikutnya.

Stasiun kota lama. Tempat penumpang selanjutnya naik.

Ada 1 yang berbeda kala itu. Ku terdiam. Melihatmu.

Bidadari yang bingung mencari tempat duduknya.

Ternyata oh ternyata.

Dirimu berseberang duduk denganku.

Cukupkah dirimu menjadi sosok indah diperjalananku?

Cukupkah rasa kagum ini berubah menjadi bulir-bulir cinta?

Aku mudah sekali jatuh cinta, namun tak semua cinta dapat bertahan menggantikanmu.

Aku ingat.

Bahkan wajahmu aku ingat.

Aku yang tengah duduk di kursi yang bertuliskan “16 E”.

Tengah melamun memandangmu. Seperti naluri yang enggan menjauh.

Entah mengapa. Wajahmu sungguh menenenangkan gundah hatiku.

Setengah perjalanan menuju Tulungagung.

Sedikit kecewa terhadap takdir, dia turun di sebuah kota mungil.

Kota yang disebut dengan kota Patria, yaitu kota Blitar.

Tanpa sempat mengobrol dengannya, atau hanya sekedar menanyakan namanya.

Saat dimana insting itu muncul, dasar pecundang!!

Hatiku menunjuk diriku sendiri. Kecewa sungguh terukir rapi di hati.

Andai waktu dapat terulang kembali, hanya untuk dirinya.

Ijinkan aku berbincang dengannya, Bolehkah Tuhan?

atau, pertemukan kita di waktu yang tak terduga.

Hanya karena skenario-Mu terlampau indah, bukan?

Sejak pemberhentian di stasiun itu.

Aku hanya mencoba untuk tidur dan berharap.

Berharap agar dirinya ada dalam mimpiku.

Dan berharap bisa berkenalan dengannya melalui mimpi.

Namun, diakhir perjalananku. Dia tetap menjadi sebuah misteri.

Misteri yang semoga bisa terpecahkan.

Beberapakali aku menemukan mimpiku sendiri terjerembab di depan pintu. Kuyup oleh hujan. Seperti pakaian kotor berulangkali kucuci dan kujemur di halaman luas. Pada saat saat seperti itu aku selalu ingat wajah dan matamu saat menatapku; selalu teduh dan meneguhkan. Maka aku yakin pada akhirnya jarak hanya memisahkan raga. Tapi ia tak pernah sanggup menjauhkan mimpi, imaji dan kenangan yang kita semat bersama dalam rindu yang paling diam.

Saat ini tetap kutunggu sebuah keajaiban, yang memberiku waktu satu kali lagi, hanya untukmu. Semoga kita bertemu.


Tulungagung 27-Mei-2016, Terimakasih untuk kenanganmu.