Januari 2020

Menerbangkan harapan untuk 12 bulan kedepan,

apapun peranku, aku siap.

siap bersenang,

siap bersedih,

siap hancur,

siap menurunkan ego,

siap bersabar,

siap menjagamu,

siap apapun,

asal bersamamu.

miles away-

ekspektasi

Kalau mau cuek, silahkan cuek.

Kalau mau risih, silahkan pergi.

biarkan rasaku jadi urusanku,

bukan hakku mengatur rasamu.

hakku adalah berharap,

hingga dihujam sepi begitu hebat.

 

maaf tuan putri, tapi ini rasaku.

mau bagimana lagi?

kalau aku sayangnya sama kamu,

kamu bisa apa?

ssttt diam,,

simpan jawaban itu untukmu,

biarkan semesta yang menangis kali ini,

mungkin itu alasan malang akhir-akhir ini sering hujan.

 

tapi aku percaya,

pelangi datang setelah hujan.

 

ah sial,

aku masih saja berharap.

Memudarkan rasa

Aku suka sekali menghabiskan waktu membaca puisi dan cerita-cerita cinta yang menguras emosi dan air mata. Kalian boleh saja menganggapku terlalu melankolis, itu urusanmu karna aku menikmati alurnya, aku suka membayangkan menjadi tokoh utama dalam sebuah puisi maupun cerita yang aku baca. Tetapi kau tau? aku tetaplah sadar antara cerita dan dunia nyata tidaklah sama. Seperti halnya sudut pandangmu dan sudut pandangku tentang cinta. Aku hanya belajar dari bacaan-bacaan itu tentang cara mencintai dengan baik dan bijak. Menyatukan perbedaan menjadi sesuatu yang saling menguatkan bukan malah menghancurkan. Aku tidak ingin merasa paling benar saat mencintamu. Aku hanya ingin mencintaimu dengan sebenar-benarnya dengan cara yang baik yang bisa aku lakukan. Tetapi, kau membuatku meragukan diriku sendiri. Kau membuatku ragu tentang makna ketulusan itu sendiri.
Bukankah cinta itu tentang ketulusan? lalu apa makna alasan dalam mencintai. Bukankah alasan-alasan itu justru yang akan membuat dua orang terpecah setelah susah payah berusaha bersatu. Bukankah alasan-alasan itu hanya akan membuatmu bertanya tentang pasanganmu dan tentang rasamu terhadapnya dan sebaliknya. Bukankah alasan-alasan itu akan membuat pikiranmu semakin rumit? Bukankah dengan alasan kau akan bertanya mengapa dan kenapa? dan kau tau, ketika alasan itu hilang kau pun akan kehilangan rasamu. Lalu dimana letak ketulusan dalam mencintai?

Saat kau mencintai seseorang dan kau mulai bertanya mengapa, saat itulah cintamu mulai dipertanyakan. Diamlah, jangan mencari-cari alasan saat kau jatuh cinta karena cinta bukan sebuah alasan dan tidak butuh alasan. Jika cintamu beralasan, ketika alasan itu hilang, kecewamu datang dan rasamu pun hilang. Jalani saja rasamu, biarkan dia mengalir dan menemukan jawabannya sendiri. Jangan terlalu keras kepala dan melulu mencari-cari alasan saat kau jatuh cinta. Jagan tanya alasan, karena bisa jadi kau mulai ragu dengan dirimu sendiri atau dengan pasanganmu.

how it could be posible?

Bersediakah kau pergi keluar bersamaku?

sekadar berjalan-jalan melihat lampu kota yang kesepian,
sedang kita, bisa sambil berbincang.

aku ingin mendengar apa saja tentangmu,
apa saja yang membuatmu bahagia dan menangis,

siapa yang membuatmu jatuh cinta berkali-kali,

berdebat tentang hewan apa yang harus dipelihara di masa tua,

atau, kamu bisa bercerita apapun yang kamu suka. Ya apapun,

aku akan dengan sudi mendengarnya,

karena aku akan menjadi lelaki paling bahagia saat melihat raut-raut wajahmu dari dekat, mendengar suaramu, bagaimana caramu bercerita dengan alur yang tak tau apa namanya itu “terus-terus”.

hingga nanti pada suatu jarak, saat rindu ini teramat bising, yang aku bisa lakukan adalah mengenang dua memori itu, wajahmu dan suaramu, dan dari situ aku bisa belajar lagi dan lagi untuk bisa menghargai perempuan dan hatinya.

aku tak tahu ada berapa galaksi, yang ku tahu, diam-diam mataku menampung satu keindahan,

itu kamu.

Sekali lagi

Rindu adalah bisik yang tak pernah kau perdengarkan untukku.

Aku menyadari, saatnya kembali ke dunia penuh rasa sendiri, tanpa berharap lagi kau akan mewarnai sepi dengan crayon-crayonmu itu.

“Rindu” adalah bisik yang mungkin tak akan pernah kau dengar lagi dariku, karena aku telah belajar bahwa rindu tak perlu harus dibalas, tak perlu harus disampaikan, hanya perlu dirasakan lalu dilewati begitu saja.

Aku kehabisan harap,

tapi semesta dengan senang mengisi harapanku sekali lagi, sekali lagi, dan sekali lagi.

mungkin semesta hanya ingin aku terus berjuang. ya. dengan harapan manusia bisa hidup lebih lama, katanya.

ya, seringkali begitu.

Tidakkah hampir selalu begitu?

 
“yang paling” akan selalu menjadi “yang paling”

Yang paling berisiko adalah yang paling berpeluang.

Yang paling tinggi adalah yang paling sulit untuk didaki.

Yang paling jauh adalah yang paling dirindu.

Yang paling indah adalah yang selalu dikenang.

dan yang paling dipegang erat adalah yang paling berusaha melepaskan.

 

ya, seringkali begitu.

Bagaimana pesan tersampaikan?

Puisi hanyalah sederetan kata yang acap kali menjadi bait-bait kosong tak bernyawa karena pesan yang terkandung di dalamnya hampir tidak pernah sampai pada satu sosok spesifk yang menjadi alasan mengapa puisi tersebut tercipta.

Tak peduli berapa orang yang membaca dan menyerap pesannya, sebuah puisi tidak akan bisa hidup sampai ia bisa menyentuh hati orang yang benar -benar dimaksud.

Dan aku disini semakin berduka karena setiap puisi yang tertulis untukmu harus dibuatkan peti mati.

Asumsi

Semalam, aku kembali belajar untuk tidak terjatuh pada asumsi bahwa hanya karena aku memiliki kedekatan dengan seseorang, bukan berarti hanya aku yang memiliki kedekatan dengannya.

Terkadang, kau memang tidak cukup untuk seseorang. Dan itu bukan salahmu, bukan karena kekuranganmu. Melainkan karena memang ia tak memiliki kemampuan untuk melihat hal-hal darimu yang cukup untuknya, seberapa keraspun kau mencoba menyayanginya dan berusaha mencari cara terbaik untuk menyayanginya.

Tak ada yang bisa aku lakukan, karna cemburu bukan sebuah hak. Namun, sampai sini aku terlatih untuk memahami bahwa setiap orang terlahir dengan pilihan-pilihan yang menjadikannya hidup dan bahagia sampai sekarang.

aku tak peduli apakah pilihanmu kemarin, saat ini, dan nanti akan seperti apa.

Yang terpenting pilihanku adalah kamu, dan dengan pilihanku aku akan berfokus melanjutkan hidup, melanjutkan apa yang sudah aku mulai, skripsi dan wisuda tentunya, dan semua hal yang bisa membuatku bahagia dengan cara yang sederhana; meminum kopi misalnya.

 

Singkat sekali

Meski sangat amat singkat, perkenalan kita membawa sebuah perubahan besar dalam hidupku.

Kau adalah matahari terbit yang kembali mengingatkanku bahwa hidup masih akan terus memiliki banyak cerita menyenabgkan. Dan bahwa meski trauma memang seringkali terjadi, bukan berarti trauma akan terus terjadi.

Perkenalan kita, mengingatkanku bahwa selalu ada terang setelah gelap.

Pertemuan kita mengingatkanku bahwa selalu ada bahagia yang menanti untuk dipeluk, meski duka terus membuatmu terpuruk.

Perkenalan kita, mengingatkanku bahwa selalu datang masanya bahwa hati siap untuk jatuh cinta lagi.

Aku bertaruh, kita memang tak saling jatuh cinta, tapi energi baru yang kau hadirkan sebagai orang “spesial” mengingatkanku akan sesuatu yang selama ini terkaburkan oleh kekecewaan; Harapan.